Minggu, 05 Juli 2020

ISTERI-ISTERI YANG TANGGUH

ISTERI-ISTERI YANG TANGGUH

Banyak ibu-ibu yang secara tidak langsung curhat tentang suaminya yang katanya menang sendiri, tidak peduli pada repotnya istri, bahkan ketika istrinya sakitpun masak dan menyiapkan makan juga tetap istri walaupun sambil menahan rasa sakit. Itulah salah satu keluhan seorang istri. Banyak hal yang disembunyikan istri hanya ingin menunjukkan bahwa semua baik-baik saja. Kebutuhan rumah tangga  seharusnya tanggaung jawab penuh suami, terkadang ditanggung istri demi meringankan beban sang suami. Naluri seorang wanita mesti ingin memiliki sesuatu yang dianggap layak untuk melengkapi kebutuhan dan peralatan rumah tangga, itupun akan diupayakan seorang istri tanpa harus melibatkan suami, karena biasanya sang suami selain masa bodoh dengan kebutuhan itu, jika diminta persetujuannya mesti jawabnya, “tidak usah beli karena tidak penting”, contoh kecil saja misalnya istri minta persetujuan untuk membeli panci, maka jawaban itulah yang akan terucap, dan itu hampir semua ibu-ibu dengan keluhan yang sama, maka jangan heran jika ibu-ibu selalu melakukan hal-hal yang dianggapnya perlu untuk memiliki namun tanpa sepengatahuan suami, hal itu dilakukan bukan tanpa sebab, namun semua demi keberlangsungan dan kenyamanan ruamah tangga.

            Bahkan jauh dari hal hal kecil yang dianggap remeh, peran istri dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga sangat menonjol, maka sudah pantas bila seorang istri adalah kepala rumah tangga sekaligus managernya, walaupun tetap dibawah kendali suami sebagai kepala keluarga. karena sebagian besar urusan rumah tangga dari hal-hal kecil sampai bersekala besar dikerjakan/ diatasi (jw) sang istri. Demikian juga pekerjaan rumah yang dilakukan sungguh luar biasa, selama 24 jam penuh mempunyai anggung jawab, bahkan saat tidurpun siap untuk berjaga demi anak dan suaminya. Mengapa tuisan ini tertuang disini karena penulis sering menjadi curahan hati para ibu-ibu yang sering mengeluh karena ulah sang suami, bukan menyudutkan para suami tapi ini kenyataan yang bisa mengurangi beban istri setelah menceriterakan kepada orang yang dianggap bisa membantunya.

Sebut saja ibu M dia bercerita tentang suaminya yang tidak akan makan sebelum disiapkan atau ditanduki (jw). Tiap hari mesti minta dipijati padahal ibu M yang tiap hari bekerja di sawah  juga merasa lelah setelah seharian bekerja. Bahkan ketika dia sakitpun dialah yang menyiapkan masak dan menyiapkan makanan untuk suami sambil menahan rasa sakit yang diderita.

Ada lagi cerita dari ibu D yang mengeluhkan sikap suaminya yang selalu peduli dengan saudara laki-lakinya dari pada  kebutuhan anak dan istrinya, bahkan kebutuhan rumah tangga dan pembiayaan sekolah anak-anaknya dibebankan pada sang istri.. Memberi jatah bulanan pada saudara kandungnya lebih diutamakan dari pada memberi uang jajan untuk anak-anaknya, aneh bukan?

Lain lagi cerita dari ibu R yang hanya diberi uang belanja dari sang suami jauh lebih kecil dari kebutuhan setiap harinya padahal setiap bulannya  mendapatkan transfer dari anaknya yang telah bekerja di pelayaran, namun suaminya memberi sekedarnya saja jauh nominalnya dengan yang sudah diterima di ATM.

Satu lagi cerita ibu E, dia menceriterakan kalau suaminya sering berkata kasar bahkan sering menyebutnya dengan sebutan anjing, apakah kemudian ibu E minta berpisah ? tidak, dia bahkan dengan sabar  menelan kepahitan dan menerima hinaan demi anak-anaknya yang tak mungkin harus berpisah dengan suami yang selama ini sering menyiksa batinnya, belum lagi uang belanjanya yang dibatasi setiap bulannya padahal banyak angsuran yang menjadi tanggungannya. Yang saya tahu ibu E berjuang dengan sekuat tenaga dalam membesarkan dan membiayai  anak-anaknya dengan bekerja serabutan, tukang cuci dan seterika pada tetangga yang membutuhkannya.

Dan masih banyak lagi keluhan dan curhatan ibu-ibu yang mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dalam rumah tangganya, namun demikian mereka tidak pernah berfikir untuk berpisah dari suaminya, komitmen mempertahankan rumah tangga demi anak-anaknya dan juga demi nama baik keluarga, agar  tidak menjadi gunjingan para tetangganya, sehingga sering  menutupi perangai dan sikap suaminya, maka karena dianggap saya netral dan tidak mungkin menceriterakan bahtera rumah tangga yang dibangunnya kepada orang lain, maka seringkali saya menjadi curhatan para ibu-ibu di kampong.

Dengan tidak mengkesampingkan peranan suami yang menjadi kepala keluarga juga menjadi imam dalam rumah tangga, maka saya sangat setuju dengan emansipasi wanita dan juga kesetaraan gender, yang akan mengangkat harkat dan martabat kaum wanita dimasa kini, supaya para perempuan sadar dan berani membela apa yang menjadi haknya dengan tanpa melupakan kewajibannya baik sebagai ibu maupun isteri.  Saya senang mereka bercerita yang dapat  menyataakan pembelaan atas perlakuan semena-mena suaminya karena menurut saya itu salah satu luapan emosi yang harus ditunjukkan. Saya kurang setuju kepada mereka yang hanya menangis dan mengeluh meratapi perlakuan suami yang tidak adil terhadap haknya, dengan hanya berdiam diri pasrah dengan perlakuan suami.

            Yang membanggakan dari ilustrasi diatas mereka para istri-istri yang tangguh, kuat dan sabar dalam menghadapi perlakuan suami, tetap menghormati dan  menjadikan suami sebagai pemimpin, pengayom dan pelindung keluarga.

Menjadi istri sholihah adalah wajib, menjadikan suami sebagai imam dalam rumah tangga adalah mutlak, ambil yang menjadi hakmu, tapi juga tunaikan kewajibanmu, sehingga rumah tanggamu akan sakinah mawaddah wa rahmah, jadikan baiti jannatii , rumahku adalah syurgaku . Waalhu a’lam (ditulis oleh Khuriyatul Ainiyah)

 

 


0 Comments:

Posting Komentar

SDN Rayung IV